Di era kini, filsafat menjadi topik perbincangan yang menarik. Hal itu dikarenakan pesatnya perkembangan media sosial membuat filsafat tidak lagi menjadi ilmu yang terkesan kaku, keramat, eksklusif, dan tabu. Filsafat kini menjelma sebagai ilmu pengetahuan yang lebih fresh, intimate, dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Dengan perubahan yang sedemikian rupa, Membuat filsafat lebih mudah diterima dan dikonsumsi oleh segala rentang generasi.
Tentunya, lebih dekatnya filsafat di kehidupan sehari-hari juga menimbulkan respon yang berbeda-beda. Secara umum, terdapat dua golongan respon seserang dalam menyikapi filsafat atau pendapat para filsuf. Golongan pertama, adalah golongan yang skeptis, kritis, tidak memandang berlebihan filsafat, bahkan menolak dengan keras. Golongan pertama tersebut memberikan respon negatif barangkali dengan beberapa alasan. Bisa jadi karena doktrin agama, filsafat bukan ilmu praktis, atau mungkin karena filsafat terlalu njelimet dan susah dipahami.
Golongan kedua, adalah golongan yang antusias, sangat menggemari, atau bahkan sampai fanatik. Golongan kedua tersebut memberikan respon demikian positif barangkali karena merasa filsafat ilmu yang keren, mencintai pemikiran-pemikiran filosofis, fanatik berlebihan kepada tokoh-tokoh filsuf tertentu, dan lain-lain. Berdasarkan kedua golongan di di atas, lalu bagaimana seharusnya sikap yang tepat dalam dalam mempelajari filsafat terlebih pemikiran filsuf itu sendiri?
Bertrand Russell di dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Filsafat Barat” menyatakan “Dalam mempelajari seorang filsuf, sikap yang tepat bukanlah memuji-muji ataupun melecehkan, namun yang pertama-tama diperlukan adalah semacam sikap simpati hipotetis, sampai terbuka kemungkinan untuk mengetahui apa yang kira-kira meyakinkan dalam teorinya, dan barulah kemudian dikedepankan sikap kritis yang, bila mungkin, menyerupai suasana batin seseorang yang tengah membuang pandangan-pandangannya yang-hingga-saat ituia yakini”. Pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa terdapat cara mempelajari (pemikiran) seorang filsuf, yaitu melalui dua tahapan. Tahapan pertama, adalah mempelajari pemikiran filsuf tersebut secara keseluruhan dan dengan sikap simpati hipotesis. Tahapan kedua, adalah menyikapi pemikiran tersebut secara kritis.
Tahapan pertama mencangkup aktivitas mempelajari dengan seksama, secara keseluruhan, dan dengan sikap simpati hipotesis yaitu sikap ingin tahu dan terbuka. Jadi pada tahap ini, ketika kita mempelajari sebuah pemikiran filsuf, hendaknya mencoba memahami terlebih dahulu keseluruhan pernyataannya dengan sikap apa adanya, terbuka, dan menerima. Pada tahapan kedua, barulah kita bersikap kritis terhadap pernyataan filsuf tersebut. Sikap kritis bisa berupa mempertanyakan kebenarannya, relevansinya dengan konteks sosio-geografis pembaca, relevansinya terhadap perkembangan zaman, dan segala hal yang dapat dikritisi.
Dua tahapan tersebut perlu dilakukan secara runtut untuk menghindari sikap berfikir yang kurang bijaksana. Bertrand Russell di buku yang sama menjabarkan lebih lanjut ”Sikap melecehkan akan menghambat tahap pertama proses ini, sementara sikap mengagungkan akan mengganggu tahap kedua”. Jadi, ketika kita mendahulukan sikap membenci, anti-pati, bahkan melecehkan, maka kita tidak akan megetahui secara keseluruhan maksud pemikiran seorang filsuf dan hal tersebut rentan dengan kesalahpahaman. Sedangkan jika kita mendahulukan sikap terlalu mengagungkan, maka akan menghambat tahap kedua, yaitu bersikap kritis. Jika itu terjadi, maka akan menimbulkan potensi fanatisme yang berlebihan.
Berdasarkan penjabaran di atas, kita bisa membiasakan diri untuk bersikap dan berfikir yang lebih bijaksana dalam mempelajari sebuah filsuf. Hal tersebut, diawali dengan sikap terbuka mempelajari secara keseluruhan, barulah kita bersikap kritis. Kedua tahapan itu perlu dilakukan demi menghindari dari kesalahpahaman dan fanatisme yang berlebihan.
Cara mempelajari seorang filsuf menurut Bertrand Russel di atas, dapat juga kita gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Di era keberlimpahan informasi saat ini, pasti di tiap harinya kita mendapatkan banyak sekali informasi, terlebih dari dunia digital dan sosial media. Mulai dari reels filsafat, potongan quotes motivasional, hingga opini-opini yang disajikan secara singkat dan sering kali tanpa konteks. Banyak orang dengan cepat memuja atau menolak suatu pemikiran hanya dari satu menit video atau satu kalimat kutipan. Di sinilah pentingnya menerapkan sikap simpati hipotesis dan kritis secara berurutan. Kita perlu memahami pemikiran secara utuh sebelum memberi penilaian. Dengan begitu, kita bisa menyaring informasi dengan lebih bijak dan tidak terjebak pada fanatisme buta, hoaks, penggiringan opini, kejahatan siber, atau bahkan manipulasi intelektual di dunia digital.

Komentar
Posting Komentar